Ingin Masa Depan Sejahtera? Yuk Mulai Berinvestasi dengan 5 Prinsip Investasi ini

Sebagai ibu yang juga merangkap sebagai menteri keuangan rumah tangga, aku dituntut untuk jeli dan bijak dalam mengatur anggaran keuangan rumah tangga. Bisa dibilang, tidak boleh ada satu rupiah pun yang terlewat. Kalau perlu dilacak lah satu rupiah itu ke mana perginya.

Demi apa? Demi memastikan bahwa setiap rupiah yang kami miliki jelas penggunaannya. (adakah yang begini juga?) Tidak hanya itu saja, kami juga berusaha untuk lebih rutin menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan.

Tetapi setelah dihitung-hitung kok ya mandek gitu. Kami tidak bisa berharap banyak dari bunga tabungan yang angkanya dibawah harga semangkuk bakso. Itu pun masih harus disunat biaya administrasi. Miris memang. 

 
Dengan dua anak yang masih kecil, masalah pendidikan adalah prioritas utama aku dan mas suami. Kami ingin mereka bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Yakin deh ini juga impian semua orangtua. Namun menabung saja tidak akan cukup untuk menutup biaya pendidikan anak. Belum lagi ditambah adanya inflasi setiap tahun. Saat lagi galau memikirkan hal ini, aku teringat orangtua-ku yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dengan asuransi pendidikan. Andaikan mereka saat itu tidak menggunakan asuransi, mungkin kami bertiga tidak bisa mengenyam pendidikan hingga universitas. 
 
 
Di sini aku sadar kalau sekadar menabung saja tidak akan cukup untuk membiayai pendidikan anak. Bagaimana caranya agar uang yang dimiliki tidak hanya sekadar terkumpul, tetapi juga bisa menghasilkan. Solusinya adalah INVESTASI. Aku, seperti kebanyakan orang awam lainnya, ketika mendengar kata ‘investasi’ pasti langsung mikir begini: “Investasi itu kan cuma untuk orang yang duitnya banyak aja” dan “Investasi itu hanya untuk orang yang mengerti soal ekonomi.” 
 

Di saat sedang galau soal investasi, Ibu Berbagi Bijak yang bekerja sama dengan Visa kembali menggelar Financial Literacy Workshop dengan tema Investment. Workshop ini merupakan lanjutan dari dua workshop sebelumnya dengan tema Financial Check up dan Planning and Budgeting. Mbak Prita Ghozie selaku Finacial Educator dan CEO & Chief Finacial Planner ZAP Finance pun kembali menjadi pembicara dalam workshop yang digelar di Mendjangan Resto di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. 
 
 
Baca juga: 
 

Keuangan Keluarga Sehat? Yuk Cek Kondisi Keuangan agar Sejahtera bersama Ibu Berbagi Bijak dan VISA


Ingin Merdeka Finansial? Yuk coba 4 Langkah Mudah Menyusun anggaran keuangan keluarga ini!

 
Secara umum, investasi adalah melakukan upaya menciptakan penghasilan atau keuntungan di masa depan dengan cara membeli suatu aset atau barang. Nah siapa sih yang nggak mau untung? Semua pasti mau yaa. Tapi sebetulnya investasi itu penting atau tidak sih? Terus investasi apa yang harus dipilih? Apakah investasi yang dilakukan selama ini sudah tepat? Itu adalah beberapa pertanyaan yang pasti muncul di benak para emak (apalagi emak yang super galau seperti aku). 
 
Mbak Prita menggunakan analogi kapal penyelamat dalam menjelaskan tentang investasi. Bayangkan daratan terkena banjir, lalu ada dua kapal penyelamat. Satu kapal berukuran kecil dengan layar lebar dan satu kapal besar tetapi layarnya kecil. Pilih yang mana? Jika ada angin kencang, kapal kecil berlayar lebar tentu bisa lebih cepat sampai tujuan. Namun bayangkan kalau ada ombak besar, tentu kapal kecil mudah terhempas (please pegangan yaa, ini bukan hempas manjaah). Begitu juga sebaliknya, kapal besar layar kecil akan lama sampai tujuan jika tidak ada angin. Tetapi kapal tersebut bisa bertahan ketika terkena ombak besar. 
 
 
Bingung kan jadinya mau pilih yang mana. Tiap kapal punya resikonya sendiri. Sebetulnya nggak perlu bingung dan pusing sih mau naik kapal yang mana karena menurut mbak Prita tidak ada jawaban yang benar ataupun salah. Kapal diibaratkan tabungan (saving) yang perlu layar untuk bergerak. Layar di sini adalah investasi (investment). kapal juga perlu pelampung (asuransi) untuk berjaga-jaga kalau kapal menabrak karang. Dan yang paling penting adalah kemudi (perencanaan keuangan) untuk mengarahkan kapal ke tujuan. 
 
Mbak Prita juga menyampaikan 5 prinsip atau langkah berinvestasi yang perlu dipahami agar para ibu bisa berinvestasi dengan bijak. 


1. Pahami tujuan dan  profil resiko

 
Apa tujuan investasi? Tanyakan ini pada diri sendiri karena tujuan investasi akan menentukan jenis investasi yang akan dipilh. Mbak Prita kembali menjelaskan dengan menggunakan ilustrasi sapi. Pada saat kita memilih investasi, apakah sapi tersebut akan untuk digemukkan lalu dijual saat mendekati Idul Adha? Ataukan sapi tersebut diperah untuk diambil susu-nya setiap bulan? Kembali lagi semua itu pilihan yaa. Begitu juga dengan investasi, apakah kita mau mendapatkan keuntungan besar tetapi hanya sekali saja seperti menggemukkan sapi? Atau kita mau menikmati keuntungan tersebut secara berkala seperti susu perah yang didapat tiap bulan? Semua kembali ke tujuan awal berinvestasi. 
 
 
Bagi mereka yang masih di usia produktif, mbak Prita menyarankan untuk memilih opsi menggemukkan sapi. Caranya dengan memperbanyak aset investasi seperti emas dan properti. Sedangkan bagi mereka yang sudah masuk usia pensiun, sebaiknya pilih investasi yang bisa memberikan keuntungan berkala seperti susu perah. Contohnya mudahnya adalah deposito.
 
Setelah memahami tujuan investasi, kita juga perlu tahu profil investor. Ternyata ilustrasi kapal yang dijelaskan mbak Prita di awal berkaitan dengan profil investor lho. Ada tiga macam tipe investor yang umum di masyarakat: 
 
  • Konservatif. Biasanya investor konservatif memilih investasi yang aman dengan risiko kecil, meskipun hasil yang didapatkannya kecil. Jenis investasi yang dipilih biasanya adalah emas dan deposito. 
  • Moderat. Investor tipe ini biasanya seimbang antara investasi yang risiko kecil dengan risiko besar. Jenis investasi yang dipilih adalah mata uang asing dan saham. 
  • Agresif. Investor tipe ini berani memilih investasi dengan risiko tinggi dan menerapkan prinsip high risk high return. 
 
 

2. Tentukan jangka waktu

 
Setelah mengetahui tujuan investasi dan tipe investor, langkah berikutnya adalah menentukan jangka waktu. Jangka waktu ini sendiri dibagi menjadi 3, yaitu jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Sebagai contoh, biaya pendidikan mas Deniz masuk universitas 10 tahun lagi tentu masuk ke dalam jangka panjang. Sedangkan biaya masuk TK adik Zinan 2 tahun lagi tentunya masuk ke dalam jangka pendek. Oya, ketika berbicara soal waktu, jangan lupa untuk memasukkan nilai inflasi ke dalam perhitungan ya. 
 

3. Ragamkan bentuk investasi

 
Dalam workshop ini, mbak Prita juga menjelaskan tentang bentuk investasi. ternyata investasi itu banyak macamnya lho. 
 
  • Aset fisik: logam mulia dan properti (rumah, tanah, bangunan lainnya, atau properti lainnya)
  • Aset surat berharga: deposito, obligasi, saham, dan reksadana
  • Bisnis: franchise dan usaha. Namun investasi bisnis ini tidak disarankan untuk biaya pendidikan anak karena sifatnya yang berisiko tinggi. 
 
Di sesi ini mbak Prita juga menjelaskan bahwa yang namanya investasi itu, apapun ragamnya, pasti mengandung risiko. Berikut ini adalah risiko investasi:
 
  • Risiko likuiditas: contohnya seperti menabung. Uang yang ada di tabungan bisa dengan mudah diambil/dicairkan, tidak seperti investasi properti. 
  • Risiko volatilitas harga: contohnya seperti saham yang bisa naik dan turun. 
  • Risiko gagal bayar: contohnya bisnis yang bangkrut sehingga tidak bisa membayar ke kreditur. 
  • Risiko pasar: Krisis moneter
Setiap investasi pasti ada risiko-nya. 
 

4. Lakukan investasi secara bertahap dan berkala

 
Setelah tahu tujuan, profil risiko, menentukan jangka waktu, dan bentuk investasi yang dipilih, sekarang saatnya ACTION! Dalam berinvestasi, ada strategi yang bisa kita jalankan agar investasi bisa terus berjalan dan nggak tiba-tiba mandek. 
 
 
  • Cost averaging. Menyisihkan penghasilan tiap bulannya secara rutin tanpa terpengaruh kondisi pasar. Dengan disiplin menerapkan ini, walaupun nilainya terlihat kecil lambat laun akan terkumpul juga. 
  • Diversification. Sebar investasi, jangan berinvestasi dalam satu bentuk saja. ‘Never put your eggs in one basket’. Tujuannya jika ada masalah dengan salah satu investasi, kita  punya investasi lainnya sebagai back up. 
  • Long term. Risiko investasi bisa diminimalisir apabila kita berinvestasi dalam jangka panjang. 


5. Evaluasi dan alokasi

 
Sudah berinvestasi, terus apakah didiamkan saja? Oh tentu tidak ibu-ibu, kita tetap harus mereview investasi yang kita miliki. Apakah investasi yang kita lakukan sudah tepat? Kalau ternyata belum tepat dan tidak efektif, misalnya nilainya turun, jangan ragu untuk me-realokasi investasi kita ke bentuk yang lain. Jangan sampai kita cuekin saja eeh tahunya investasi yang kita pilih tidak bisa memenuhi harapan kita atau yang lebih parah lagi ternyata adalah investasi abal-abal alias investasi bodong. Ngeri banget! 
 
Source: kontan.co.id
 
Agar tidak terjebak dalam investasi bodong, ada beberapa hal yang wajib diingat dan diperhatikan saat memilih investasi:
 
  1. Kalau ada investasi dengan janji setinggi langit dan pasti, patut dicurigai itu adalah investasi bodong karena yang namanya investasi itu pasti ada risiko dan hasilnya tidak bisa dijamin. Jadi ibu-ibu jangan langsung tergiur dengan iming-iming keuntungan yang besar yaa. 
  2. Cek legalitas dan ijin perusahaan investasi tersebut. Emangnya bisa? Aku bersyukur banget pemerintah Indonesia memberikan perlindungan kepada warganya lewat Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 
  3. Perhatikan skema investasi. Cari tahu dari mana asal dan perhitungan keuntungan investasi tersebut. 
  4. Hati-hati dengan yang namanya money game.
 
***
 

Alhamdulillah setelah mendengarkan paparan mbak Prita Ghozie tentang investasi, semua pertanyaan yang seliweran di kepala bisa terjawab dan jadi semangat untuk berinvestasi deh. So, buat para ibu di luar sana yang sempat galau soal investasi, yuk jalani 5 prinsip bijak berinvestasi dan mulai berinvestasi untuk masa depan keluarga. Buat kamu yang sudah berinvestasi, boleh banget share di kolom komentar tentang investasinya ya biar aku bisa belajar lebih banyak. 

 
 
Terima kasih sekali lagi untuk Ibu Berbagi Bijak, VISA, dan Kumpulan Emak Blogger yang telah menyelenggarakan workshop yang penuh manfaat ini. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa tercerahkan tentang investasi yaa. 
 

Ibu Berbagi Bijak

Instagram: @ibuberbagibijak
Website: www.practicalmoneyskills
 
Thanks for reading!

35 thoughts on “Ingin Masa Depan Sejahtera? Yuk Mulai Berinvestasi dengan 5 Prinsip Investasi ini”

  1. iyes bener banget suka miris ya kalau return yang kita dapatkan tidak lebih dari harga semangkok bakso duh duh, yukk ahh akupun ingin investasi yang benar nih untuk menyiapkan biaya sekolah anak2 di masa yang akan datang hehe

  2. seneng deh tiap mendengarkan penjelasan Mbak Prita. Cara beliau membahas hal berat kayak gini terasa ringan dan mudah dipahami. Coba waktunya lebih panjang bisa pakai simulasi investasi

  3. Masalah investasi ini sedang saya pelajari lagi nih, Mbak Tya. Biar gak kena investasi bodong. Sejauh ini masih main aman dengan investasi bentuk LM, tapi penasaran sama reksadana itu. Memang harus dicek ya ternyata sudah terdaftar OJK atau belum.

  4. Baca ini jadi semakin melek tentang investasi. Walau aku belum punya anak tapi harus dipersiapkan dari sekarang. Jadi nanti kalau sudah punya anak, udah punya pegangan buat dia.

    1. Ayo mbak Ratna Dewi, mesti banget disiapkan dari sekarang. Itu ibuku waktu nikah dikasih hadiahnya asuransi pendidikan anak, padahal waktu itu aku belum hamil. Tapi alhamdulillah kebantu pas si kakak mau masuk TK.

  5. Wah ilmunya sangat bermanfaat banget dan mbak Prita menyampaikannya dengan ilustrasi yang mudah dipahami, seru banget ya acara workshop ini dan penting banget ilmunya buat kita-kita yang harus mengatur keuangan keluarga.

  6. Akhirnya aku pilih yang risikonya rendah hingga moderat, mungkin gara-gara usia kali ya. Sudah pernah mencoba bermain saham, tapi nggak kuat dengan fluktuasinya, akhirnya ya udah reksadana dan obligasi saja.

  7. Belum bisa mikirin investasi karena pendapatan masih mepet ama pengeluaran tapi emang sehrusnya sudah dipikirkan apalagi saya juga memiliki dua buah hati yang butuh jaminan keamanan finansial di masa depannnya. makasih Mbak udah sharing.

  8. wah semakin terinpirasi buat berinvestasi baca ini , sebenarnya aku juga cost averaging uda jalan cuman ga komit weh hayu weh dicokelin hehehe jd kepake hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *